Malam Terindah

by - 06.10


Musim ujian akhir nasional tingkat SMA telah berakhir. Diikuti sederet daftar panjang ujian – ujian yang lain. Ini pertanda pula berakhirnya masa putih abu – abu bagi seluruh siswa  kelas XII diseluruh Indonesia.
Tentunya momen seperti ini tak akan dilewatkan begitu saja oleh siswa di beberapa sekolah, Harus ada sesuatu yang dapat dikenang kelak. Ketika waktu terasa sangat dirindukan.
*****
            Aku, Intan Nayla, gadis 18 tahun yang baru saja menamatkan satu jenjang pendidikan. Baru  siang tadi pelepasan siswa SMU di sekolah  usai digelar. Mataku mengerjap tak percaya bahwa malam ini mungkin akan menjadi hari terakhirku dan teman – teman  dimasa remaja ini. 1 Jam lagi, pelepasan outdoor akan dihelat di sebuah gedung Kreasi Seni.
            Sejak 3 jam yang lalu aku terdampar disini menunggu Ririn Yulianti yang akrab kusapa Ririn ini dengan wajah terlipat. Ia masih berkutat di depan cermin, memandang penampilannya berkali – kali. Menyapukan make-up tipis ke wajah manisnya lalu dihapusnya, begitu berkali – kali.  Kesabaranku mulai terusik, kesal karena sahabatku itu tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri.
            “Rin, kamu mau dandan atau cuma bikin emosi sih?Liat tuh udah jam berapa?? Kalau nggak cepetan aku tinggal kamu!!” ucapku kesal. Mendengar itu Ririn hanya menyeringai lebar.
            “Iya – iya cint, udah selesai nih.“ Jawab Ririn sambil mengambi tasnya.
******
Baru sepuluh menit berlalu sejak kami meninggalkan rumah Ririn, sudah terjebak macet. Kulirik jam sudah menunjukkan pukul 18.30.
            “tuh kan Rin, macet nih. Gara – gara kamu kita bisa telat tau!”
            Ririn hanya tersenyum, sudah kebal dengan ketidak sabaranku. “Buru – buru amat, telat dikit kan gapapa”
            “Aku gak mau telat dalam acara terakhir kita ini”
            “Nay, sobatku tersayang,, kamu tuh nggak mau telat atau pengen cepat ketemu Indra Noveri Kurnia akbar alias Inka pujaan hatimu itu kan?” ledekku
            Aku melirik sewot, “ Ririn, sahabatku tercinta terkasih, kalau kamu masih banyak ngomong, mending turun deh. Nyesel tadi aku jemput, trus nunggu berjam – jam”
            “iya.. iya… aku diam. Tapi bener kan?”
            “GAk!!”
******
            Mobil yang kupinjam dari papa memasuki halaman gedung seni pukul 19.15. telat 15 Menit dari jadwal acara. Gedung dipusat kota ini memang sudah berusia puluhan tahun, namun bangunannya masih kokoh dan luas. Sekolah sering mengadakan acara disini. Dalam gedung yang terdiri dari gedung seni dan gedung yang berfungsi sebagai gedung serbaguna itu muat untuk ribuan orang. Acara sepertinya belum dimulai, pintu utama masih tertutup.
            Aku langsung bergabung dengan teman – teman sekelasku, begitu juga Ririn. Kami memang tidak satu kelas di tahun terakhir ini.
            Panitia yang dibentuk dari mantan anggota Osis ini  lalu lalang kesana kemari. Pandanganku tiba – tiba menangkap sosok Berkemeja flannel berwarna biru, senada dengan gaunku. Cowok itu juga tengah sibuk seperti panitia yang lain.cowok itu tak lain adalah Inka.
            “Chieee … kok bisa kompakan sih? Janjian ya? Jodoh kayaknya” mulut Ririn merepet persis petasan.
            “Apaan sih Rin? Jodoh ama siapa?” Aku pura – pura tak tahu.
            “Alah…. Gak usah belaga bego deh, semua anak disini juga udah tau kali, kalo kamu itu ngefans banget ama yang namanya INKA!!” Ririn sengaja member penekanan pada kata Inka.
*******
            Awal perkenalanku dengan Inka tepat 2 tahun yang lalu, saat dia  membantuku bersama anak – anak PMR saat acara bakti sosial. Senyumnya kepada semua orang serta perhatiannya pada acara tersebut membuatku terkesima. Kekagumanku saat itu semakin bertambah ketika dia ikut serta  menjadi relawan ke kota yang terkena bencana. Selain itu, saat menjabat sebagai ketua PMR aku sering diundang rapat osis yang tentunya ada Inka di dalamnya, sehingga membuat aku lebih akrab dengan dia. Dulu julukan Inka itu berawal dari aku dan Ririn. Kami mengambil huruf depannya  untuk disingkat
 Perasaanku pada Inka kupendam sendiri sampai akhirnya aku menceritakan perasaanku pada Ririn. Ririn juga bercerita tentang perasaannya. Kami sepakat untuk menjaga rahasia masing – masing. Tapi kenyataannya ia malah menceritakan rahasiaku ke anak – anak yang lain. Hampir satu sekolah tau kalau aku suka pada Inka yang jadi Most Wanted sekolah itu. Mulai dari teman sekelas, seangkatan sampai adik kelas. Dan parahnya lagi, anak – anak tak ada yang percaya saat aku bilang Ririn suka pada Yudhis, cowok yang juara taekwondo yang juga komplotannya Inka.
            Sejak gossip itu menyebar, hubungan baikku dengan Inka mulai merenggang hingga akhirnya kandas. Inka mulai menjauhiku, dan kamipun tak lagi berbicara. Smsku tak pernah dijawab. Bahkan saat aku bertanya sesuatu di sekolah hanya dijawab singkat.
*******
            Aku dan teman – teman masuk kedalam gedung dan memilih duduk di deretan tengah sedang Ririn bersama teman – temannya di deretan belakang. Inka dan Yoga, mantan ketua Osis terlihat sibuk mondar – mandir. Baru sekejab mereka duduk di belakang, beberapa menit kemudian mereka sudah berada di samping stage.
Acara berjalan dengan lancar. Penampilan band – band tamu semakin menambah meriah acara. Tak lama, acara puncak yaitu ngedance bareng berlangsung. Semuanya berhamburan di depan stage untuk ngedance bareng. Termasuk Ririn.
            Aku tidak ikut, kemudian memutuskan untuk bergqabung bersama teman – teman Ririn yang tak ikut ke depan stage.
            Begitu alunan musik berhenti, semua yang di depan  kembali ke tempat duduk masing – masing. Ririn heboh melihat aku duduk diantara teman – temannya. Sementara Inka memilih duduk agak jauh dariku.
            “Deileee… yang kangen ama someone…..”
            Tanpa pikir panjang, aku mengambil koin gopekan dan….. PLETAK! Dengan sukses mendarat di kepala Ririn.
            “ADAAOWWWW!!! Inka… Cewek kamu rese nih! “ jerit ririn. Spontan temen – teman Inka yang berada disitu langsung menatap kearahku. Tak luput Inka yang menatap tajam kearahku. Ia pun bangkit dan berjalan ke tempat lain bersama Yoga.
*********
            Acara berakhir tepat pukul 1 dini hari. Sudah capek rasanya seluruh tubuhku, ingin cepat – cepat sampai rumah. Aku berjalan sendiri ke tempat parkir karena Ririn pulang bersama Yudhis. Sialnya lagi, mobil papa tak mau hidup. Aku bingung sekali ketika tiba – tiba seorang dengan motor sport birunya berhenti tepat di depan mobil yang aku coba nyalakan.
            “INKA??” pekikku setelah pengendara motor itu membuka helm. Aku buru – buru keluar dari mobil.
            Ini bukan mimpi,kan? Aku mencoba menutup mata dan menghitung sampai tiga. Kata orang, kalau Cuma fatamorgana, biasanya hilang di hitungan ketiga.SATU…. DUA…. TI…..
            “Nay!” teriakan itu membukakan mataku. Sosok itu berdiri di depanku. Berarti ini bukan mimpi. “Nay, mobil kamu kenapa?”
            “ng…Ng…. nggak tau nih, nggak bisa nyala.”
            “Kamu pulang bareng aku aja. Mobil kamu taruh sini aja, besok diambil”
            Ha? Beneran nih inka ngajak pulang aku? Batinku masih tak percaya.
            “Nay! Kok melamun sih, mau bareng nggak?”
            Tanpa pikir panjang aku langsung naik ke motor Inka. Kapan lagi coba, bisa dekat lagi dengan cowok ngetop di sekolah. Jadi ingat masa dulu.
            Beberapa menit keluar dari gedung seni, Inka menghentikan motornya di tepi jalan dan memakaikan jaketnya ke tubuhku.
            “kamu pakai ini ya, angin malam bisa bikin kamu sakit. Aku nggak apa, udah terbiasa gini.”
            Perjalanan pulang kali ini terasa indah buatku, hatiku terasa jumpalitan dibonceng Inka. Apalagi tiba – tiba Inka menggenggam tanganku saat aku berpegangan padanya. Ini aneh. Masih kuingat sorot tajam beberapa jam lalu, tapi detik ini ia begitu baik padaku. Pikiranku terbang  terus  hingga tanpa sadar Inka berhenti tepat di depan rumah dan aku belum turun juga dari motornya.
            “Nay.. Sampe kapan kamu nangkring disini??”
            “Hah? Udah nyampe yah?”
            “Wah kamu sih ngelamun”
            “Makasih ya Ka, kamu udah mau nganterin aku” kataku sambil balik badan.
            “Eh Nay, tunggu!” Inka meraih tangan aku. Membuat hatiku semakin jumpalitan “Aku pengen ngomong sesuatu” ucapnya tanpa melepaskan genggamannya “Aku sayang sama kamu Nay. Maafin sikapku yang selama ini dingin ke kamu. Aku ngelakuin itu karena awalnya aku emang nggak suka dengan gossip itu. Aku fikir kamu sengaja ngumbar perasaanmu ke orang – orang. Tapi semakin lama aku memperhatikanmu, aku jadi suka sama kamu. Nay.. masihkah perasaaanmu itu untuk aku?” Pengakuan Inka pun mengalir begitu saja.
            Mataku mulai berkaca – kaca “ Aku minta maaf atas semua yang dikatakan teman – teman. Aku nggak berni--” telunjuk Inka memotong kalimatku.
            “sudah lupakan saja. Maukah kamu jadi pacarku?”
            Aku mengangguk perlahan sambil tersipu. Genggaman Inka semakin erat di tanganku. Malam ini sungguh indah. Setelah sekian lama, akhirnya perasaan ini benar – benar terwujud.
*******
SELESAI

You May Also Like

0 komentar