Kampung kecilku yang riuh kini menjelma
Suara krik – krik yang dulu merdu hanya tinggal beberapa
Pada lembaran – lembaran bamboo yang setia teduhkanku dulu
Kini semakin rapuh tertelan masa
Sedang tanah – tanah hitam sekitar
Telah berlubang sana – sini
Demi ribuan bata yang menegakkan bangunan – bangunan baru disekitar
Keramaian yang menceriakan lenyap karena ambisi
Pemuda , pemudi, wanita, lelaki
Berbondong menuju negeri seberang
Demi sekeping rupiah
Tuk membangun istana warna warni
Lihat!
Kampung kecilku kini penuh warna – warni
Megah bertahta rumah – rumah gedong
Yang menyerupai istana kota
atau bahkan jauh lebih indah
Namun tiada berpenghuni
Hanya renta – renta penunggu
Pengasuh cucu – cucu mereka
Namun…
Padanya masih setia kuukir
Dongeng – dongeng pengantar tidur
Yang dulu kerap dilantunkan
Tuk melelapkanku dalam buaian kasih sayang
Padanya juga masih kuingat
Tradisi temurun yang diajarkan
Tentang sebuah ritual perayaan adat
Pantang tuk ditinggalkan
Padanya…
Kampung kecilku..
Sampai kapanpun tetaplah tanah kelahiranku
Tanah yang menjadikanku sekarang ini
Tanah leluhurku
Tanah Jawaku
Tanah Indonesiaku
Madiun, 28 Agustus 2011


Post a Comment
Post a Comment