Dua Jam untuk Selamanya

6:00 PM


doc. pribadi 

………. percayalah aku akan selalu menjagamu, karena aku adalah pelangi hatimu dan kaulah  pelangi hatiku. Sampai kapanpun.
Kilauan pelangi selepas hujan di langit utara sore itu,lengkapi segarnya udara di sekeliling. Tanda – tanda cahaya pendar senja berusaha menerobos sisa – sisa mendung memasuki jendela kamarku. Dari kamarku, pelangi nampak indah dalam pandangan. Selalu saja, aku suka melihat pelangi. Karena pelangi selalu ingatkanku akan dia. Pelangi selalu memantulkan bayang senyumnya. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila dan Ungu yang nampak sama seperti beberapa tahun silam tatkala aku dan dia melihatnya sama – sama di gazebo tua.
   Dia, sosok yang hampir 5 tahun ini kurindukan. Yang aku kenal 1 Windu silam saat hari pertama kami menjejakkan kaki dibangku SMP. Lukman Arif Sulistiyo akrab kupanggil Lukas. Panggilan Lukas kuambil dari singkatan namanya Lukman A.S. Dia sosok yang sampai detik ini masih menggelayut manja dalam pikiranku. Selalu menjadi penyemangatku untuk melanjutkan hari -  hari. Selalu bisa membuat aku iri, kagum juga bangga karena pengetahuan dan kemampuan berfikirnya yang bagus. 3 tahun waktu SMP berlalu, persahabatan kami semakin erat. Dan aku menyadari ada rasa yang berbeda, buka sekedar persahabatan. Tapi ada cinta dihatiku untuknya.
Usai pengumuman kelulusan, aku tahu Lukas dan keluarganya  pindah dan akan melanjutkan kehidupannya di Jogjakarta, tempat neneknya tinggal. Aku sempat kecewa karena Lukas  tak pernah pernah membicar akan hal itu sebelumnya. Sepucuk surat terakhirnya kala itu, membuatku harus rela melepas Lukas.
            Hari – hariku terlewati dengan sepi. Sepi tanpa kehadiran Lukas.
            Setahun belakangan aku baru mengetahui kabar Lukas melalui teman SMAku yang kuliah di Jogjakarta. Lukman Arif Sulistiyo, mahasiswa terbaik jurusan Akuntansi di UGM, waktu SMA mengikuti kelas Akselerasi dan sekarang baru saja menyelesaikan studi S-1 nya. Mendengar berita itu aku bangga sekali, dia memang pintar. Padahal aku baru semester 4, dan dia sudah menjadi sarjana.
            Dengan berbagai cara, temanku berusaha mendapatkan nomor telepon Lukas untukku. Jemariku tak henti – hentinya menekan nomor telepon Lukas, tapi tak pernah sekalipun dering telponku didengar olehnya. Entah dia sudah lupa atau memang tak lagi peduli padaku.
Namun pagi tadi  semua berubah. Senyum mengembang dari sudut bibirku saat sebuah pesan singkat muncul dilayar ponselku.
 “Aku akan pulang ke Surabaya besok pagi. Aku tunggu di taman dekat SMP jam 10” (Lukas)
Aku tertegun dalam ketidakpercayaan , kelebat bayang peristiwa masa lalu yang terekam muncul silih berganti seperti slide presentasi di depan mata. 5  tahun, bukan waktu yang singkat. Selama 5 tahun itu aku menunggunya dalam sunyi, semua teman lelakiku tak pernah bisa menggantikan keberadaan Lukas. Lukas, aku mencintaimu. Hanya kamu yang aku mau.
*****
            Setelah 5 Tahun berlalu, taman ini tak banyak berubah. Masih sama seperti dahulu. Termasuk sebuah gazebo tua tempat favorit aku dan Lukas . Tempat aku dan Lukas menghabiskan waktu, bercengkeramah dan berbagi tawa serta tempat kita sama – sama mengintip pelangi diatas sana sehabis hujan. Aku menunggunya disini. Seolah kembali kurasakan bekas bau harum tubuh Lukas di tempat ini. Semua masih sama kecuali kehadiran Lukas.
            Sejam, dua jam, hingga 5 jam aku menunggu kehadiran Lukas di taman yang dia janjikan. Akan tetapi tanda kemunculannya tak kunjung ada. Cemas mulai menjalar dalam jiwaku. Seingatku Lukas adalah orang yang tepat waktu dan tak pernah ingkar janji. Tapi sekarang, kenapa ia malah mengingkari janjinya.
            Mendadak layar ponselku berkedip, nomor Lukas memanggil. Bagai disambar petir mendengar suara di seberang. Bukan Lukas, melainkan mamanya. Lukas dilarikan di Rumah Sakit Haji karena mamanya mendapati Lukas tak sadarkan diri di kamarnya.
*****
Dengan kecepatan abnormal aku melarikan motorku menuju Rumah Sakit Haji, berlarian menabrak palang parker, suster – suster untuk sampai ke kamar Lukas dirawat. Mama Lukas, Tante Ema mempersilahkan aku masuk. Kulihat seseorang yang selama ini ingin aku temui terbaring lemah di pesakitan. Tanpa memperdulikan sekeliling, aku menghambur dalam pelukan Lukas.
            “Afiza…..” suara Lukas lemah
            ‘Jangan bicara apa – apa Lukas…” ucapku lirih. Tak kuasa ku menahan air mataku
            “Nggak Za… aku taka pa, Cuma kecapekan. Maafkan aku yang dulu meninggalkanmu. Aku sayang sama kamu Za. Dari dulu, sekarang dan selamanya.”
            Detik berlalu dalam setiap detak, tanpa terasa 2 Jam sudah aku mengobrol bersama Lukas. Dokter kemudian meminta agar Lukas istirahat. Perbincanganku dengan Sosok yang selalu aku mimpikan berakhir dengan begitu saja. Kini aku yakin, Lukas tak pernah berniat benar – benar meninggalkanku.  
***** 
Lukman Arif Sulistyo
Lahir, 20 Mei 1990
Wafat 5 juli 2011
            Air mataku menetes tepat diatas pusara Lukas. Dia meninggal sehari setelah menyatakan perasaannya padaku. Tak pernah kusangka akan secepat ini dia pergi meninggalkanku untuk selamanya. Rupanya, pertemuanku dua jam dengannya , merupakan pertemuanku yang terakhir. Dua jam yang singkat untuk selamanya. Dua jam yang tak akan pernah bisa kembali lagi.
            Dari Tante Ema aku mengerti, sudah lama Lukas mengidap kanker getah bening.
            “Dulu ia meminta pindah ke Jogja karena tak ingin melihat kamu sedih. Kondisi Lukas setiap hari semakin menurun, setelah ia menyelesaikan kuliahnya, ia memaksa untuk pulang ke Surabaya dan menemui kamu. Tante akhirnya mengizinkan ia kesini. Mungkin itu  keinginan terakhirnya sebelum meninggal” tutur Tante Ema yang terlihat tegar.
            “Dia menitipkan ini untuk kamu, dia bilang agar tante menyerahkannya saat ia sudah tak ada” Tante Ema menyerahkan sebuah buku tebal berwarna hitam kepadaku.
            Teruntuk Pelangiku, Afiza Anastasya
Begitu tulisan di halaman pertama buku milik Lukas tersebut. Aku tak sanggup membaca kalimat – kalimat yang terangkai indah di dalam buku tersebut. Ukiran tentang masa lalu yang pernah kita lewati bersama tersusun rapi disetiap halaman . Banyak foto – foto kita berdua didalamnya.
Terselip sebuah lipatan kertas bermotif pelangi di halaman belakang buku tersebut.
Pelangiku, Afiza,,
Saat kamu membaca setiap goresan tinta dalam buku ini, itu berarti aku telah tiada. Tapi meski  aku telah tiada, percayalah aku akan selalu menjagamu, karena aku adalah pelangi hatimu dan kaulah pelangi hatiku. Sampai kapanpun.
Setiap memandang pelangi aku selalu teringat kamu Afiza.
Aku meninggalkanmu dahulu bukan karena aku tak menyayangimu,bukan karena aku tak ingin bersamamu, tapi aku hanya tak ingin kamu bersedih melihat keadaanku Afiza. Aku yakin kamu bisa tanpa aku. Sama seperti dahulu, 5 tahun ini kamu masih pelangiku, meski aku tak pernah menyatakannya. Setiap pelangi ada , aku selalu membayangkan itu adalah dirimu yang tengah tersenyum untukku. Kamu tetaplah merah,jingga,kuning,hijau,biru,nila dan unguku. Kamu adalah pelangi terindah yang pernah aku lihat.
Jangan bersedih lagi atas kepergianku, kamu harus bisa melepasku dengan ikhlas sama seperti saat aku tak ada 5 tahun ini. Karena aku tahu, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Aku yakin, suatu saat kamu bisa menemukan seseorang yg lebih baik dari aku dan menyayangimu lebih dari aku.
“Pelangiku, kutitipkan buku ini untukmu. Sebagai kenangan akan masa lalu kita. Euforia kebersamaan kita dahulu akan selalu hidup dalam buku ini”
Yogjakarta , 29 Juni 2011      
-Lukman Arif Sulistyo-


Note: 
Cerpen ini pernah diterbitkan dalam Kumpulan Cerpen Sketsa Pelangi (Leuitika Prio) pada tahun 2011. 

You Might Also Like

0 comments