Teman SD yang Pernah Bikin Kesal


Teman SD yang Pernah Bikin Kesal- Tema minggu ketiga dari tantangan nulis bareng Ning Bloger Surabaya ini cukup bikin saya garuk-garuk kepala. heheh setelah menulis soal selingkuh yang cukup bikin saya kembang kempis, karena nggak tahu mau nulis apa. Sedangkan tema satu lagi tentang teman SD yang tidak disukai. 

Kata orang, masa sekolah paling indah itu jaman SMA, tapi bagi saya justru malah jaman SD. Banyak cerita, banyak kenangan jaman SD meski sudah terlampaui 16-22 tahun lalu. 

Kenangan Jaman SD


Lihat postingan ini di Instagram

Konon katanya , pertemanan paling jujur itu pertemanan jaman SD. Temen "berani kotor" paling menyenangkan. Tanpa ada rasa malu, saling berbagi, saling mengolok tanpa aling-aling, tapi nggak ada yang bikin sakit hati. Paling cuma hari ini nangis sambil ngomong "siwak", tapi besoknya udah "bolo" lagi. Sambil ngomong "aku kemarin marah sama kamu gara2...." . . Di jaman SD dulu hal yang paling ditakutkan adalah saat nama bapakmu ketahuan oleh teman-temanmu, jadi bahan olokan sekelas. Bahkan sampe sekarang masih ingat satu nama orang tua temen yang paling sering dibuat olokan . πŸ˜‚. . . Masa SD paling enak, kesana-kemari tanpa beban, tanpa masalah, paling cuma lupa ngasih makan "Tamagotchi" terus mati, sedihnya nggak ketulungan. Padahal kan ya bisa melihara lagi. Atau ketika anak cowok pada asyik sama Tamiya nya πŸ˜‚ terus apa lagi ya? .. . . Atau ketika males ngerjain PR tinggal Dateng pagi, kemudian nyontek ke temen. Atau kalau lagi Rajin ngerjain yaa bakalan jadi bahan contekan. Paling seneng kalau dapat rangking di akhir caturwulan padahal ya gak pernah belajar, rapotnya bisa difotocopy kemudian bisa masuk taman hiburan remaja (THR) gratis. Iyaa dulu seneng banget gitu masuk THR gratisan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ . . Memasuki 2 tahun terakhir SD, paling mulai muncul olok-olokan cinta-cintaan. Cinta monyet sih tepatnya. Tapi yaa.. baik-baik saja, gak ada istilah baper (jaman dulu emang belum muncul sih istilah baper, sama galau) gak tau kalau anak SD jaman sekarang. Hayo, masih ada yang inget cinta monyetnya nggak? Atau temen sebangkunya ? . . Masa SD di akhir 90an hingga awal 2000an, di mana gawai belum menjamur seperti sekarang, kami masih menikmati masa kanak-kanak dengan banyak permainan dan kebahagiaan. Ketika Istirahat sekolah kami suka memainkan Bekel, kadang Gobak Sodor, Kadang Dolip-dolipan, kadang Engkle, sepulang sekolah kadang main petak umpet. Permainan yang kini jarang aku temui dimainkan oleh anak-anak. Anak masa kini lebih asik tenggelam dalam permainan gawai mereka. . . . πŸ“· Temen selama 21 tahun yang masih sering ketemu sampe sekarang. . . #30haribercerita #30hbc1926

Sebuah kiriman dibagikan oleh Ria agustina (@rieagustina) pada

Saya masih ingat hal paling memalukan jaman SD adalah Jatuh terjengkang ke belakang (nggeblak) dari kursi waktu kelas 3 SD gara-gara suka memainkannya. sontak seisi kelas tertawa.  Dan saya nangis gegara itu, diketawain sekelas. 

Teman SD yang Bikin Kesal
Lihat postingan ini di Instagram

Lanjutan dari postingan sebelumnya tentang jaman SD. Di ingetin temen di kolom komentar kemarin, ternyata kenangan di jaman SD banyak sekali terutama soal jajanan πŸ˜…. . . Jajanan dan makanan masa itu yang sangat murah, beli bakso 500 perak udah dapet semangkok, beli pecel juga 500 perak udah dapet sepiring. Ada Cokelat Jago, cokelat enak seharga 250perak. Ciki yang terkenal waktu itu yang paling kuingat adalah Jari-Jari, atau Ciki yang hadiahnya tazoz (eh, bener gak ya? Aku lupa). . . Kelakuan @dini.np beli pisang / telo goreng di kantin tapi harus ditolet sambel Petis. agak aneh sih ya πŸ™„ Es teh plastikan yang sedotannya bisa buat jerat leher (SAKING PANJANGNYA) seharga 200perak. . . Dulu di belakang kelas kami ada pohon Juwet (Duwet) , beberapa teman sempat manjat pohonnya pas lagi berbuah. Orang dewasa kerap menakuti bahwa buah Juwet itu buahnya setan, banyak setan di pohonnya. Dengan polosnya kami percaya buah Juwet itu buahnya setan. . . Oiya, ada penjual pentol langganan, kami menjulukinya "Pak Blangkon" , gegara orangnya mirip sama tokoh Pak Untung Blangkon, ART di Sinetron Tuyul dan Mbak Yul (sinetron kebanggaan semua umat masa ituπŸ˜‚), orangnya masih jualan sampai sekarang dan masih inget sama aku ketika beli pentolnya, kadang nanyain kabar teman-teman saking hapalnya sama kami. . . Atau jajan telur gulung, yang minyak gorengnya naudzubillah hitam. Alias minyak jelantah yang dipake. Tapi kok ya untungnya kami dulu sehat-sehat saja πŸ˜‚ . . Dan masih banyak jajanan lagi seperti Gulali, Es Wawan, Es potong yang dicelup ke cokelat, Es Gabus. Duh, masa kecil yang penuh jajanan enak dan bikin kangen. . . Makasih @arini.aii @dini.np @kurnianimian yang kemarin mengingatkan jajanan enak masa lalu πŸ˜‚ . . Cerita ini masih panjang, ada banyak yang belum ditulis. Termasuk kelakuan-kelakuan minus kami di masa itu. . . Yang berharga dari setiap cerita bukan kemewahannya atau tempatnya, tapi "dengan siapa" kamu membuat kenangan tersebut, orang-orangnya yang menemani kamu melakukan hal-hal tersebut. Jadi buatlah kenangan sebanyak-banyaknya bersama orang tersayang. Karena waktu nggak akan bisa diputar kembali. . . #30hbc1928 #30haribercerita

Sebuah kiriman dibagikan oleh Ria agustina (@rieagustina) pada

wah ini saya bingung njelasinnya, termasuk tidak suka apa enggak. Yang jelas saya suka kesal sama teman saya ini karena saya merasa tersaingi. Jadi gini, maklum anaknya suka bersaing. bersaing di sini dalam artian bersaing sehat ya... Dulu -alhamdulilah masih masuk anak pintar- yang dapat rangking 1 di setiap cawu (caturwulan).
nah karena di kelas ada beberapa anak yang juga lumayan pintar, maka guru saya membuat rangking satu menjadi 1.1 , 1.2, 1.3 dst. 
Kalau saya kedapatan rangking 1.2 atau 1.3 saya sebal. Padahal lho yo podo rangking 1 ne.. 

Oh, ada lagi saya ingat. Teman laki-laki saya bernama Antoni. Kami mengenal sejak TK karena jarak rumah hanya sekitar 100m sewaktu ibu dan bapak masih bekerja sebagai penjaga rumah orang. Di rumah majikan ibunya, Antoni ini memiliki Anjing bernama BLACKY. Ia tahu saya sangat ketakutan dengan anjing. Suatu saat sedang asyik main sepeda di jalan si Antoni ini menyuruh BLACKY untuk mengejar saya. 
Sontak saya mengayuh sepeda kencang, menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Si Antoni malah cekikikan. Kalau sekarang ketemu dia, ingin misuh rasanya 🀣🀣🀣🀣
Itu peristiwa yang nggak bakal saya lupakan seumur hidup. Masih sering trauma dan ketakutan setiap lihat anjing. Padahal guguknya biasa saja, jantung yang deg-degan. 

Merawat Pertemanan Hingga duapuluh dua tahun
hampir duapuluh dua tahun sejak kami kenal pertama kali, sampai sekarang hubungan saya dan teman-teman SD masih teramat baik. Walaupun hanya tinggal beberapa yang tetap kontak, kami masih sering bertemu. dan salah satunya adalah teman yang dulu suka bikin kesel. hehehe
ya, kami berteman baik dan bersahabat sampai sekarang, jarak rumah yang tidak terlalu jauh membuat kami sering keluar bareng, nongkrong atau sekadar rujakan bersama. 


jadi, saya mikir, sebenarnya dulu itu benci atau hanya sekadar sebal karena merasa tersaingi ya?

Artikel ini disertakan dalam Challenge 'Nulis Blog Bareng Ning Blogger Surabaya' 

Edisi Juli Minggu 3
Rie agustina
Selain Suka Pantai, aku juga suka kamu :) Kunjungi Tulisan saya lainnya di Jurnalrieagustina.com

Related Posts

There is no other posts in this category.

4 comments

  1. wkakakakakak, nggeblak.
    Iya sih ya, anak kecil itu adaaaa aja kelakuannya, saya mah yang gitu-gitu sampai udah segede ini kadang suka aneh-aneh, main-mainin kursi, nggak sadarkan diri dengan badan yang main bengkak, entar kursinya roboh baru tauk rasa hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk... iya mbak Rey, itu pengalaman yang paling memalukan jaman SD. nggeblak.

      Delete
  2. Temen SD saya, saya sudah lupa syemuaaa

    Wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies

    1. coba diinget-inget mas, kali aja masih ada yang bisa dihubungi. hahaha

      Delete

Post a Comment