Cerita Kita Dahulu

by - 17.17


Kelam membungkus raut wajah seorang wanita di sudut taman kota. Hiruk pikuk terabai olehnya. Kembali ia pandangi sebuah foto di hadapannya. Foto ia sedang dipeluk seseorang. Ada sesuatu yang mengganjal dalam ingatannya. Sekelebat kenangan memaksanya membuka luka lama. Luka sekaligus kesalahan yang menyesakkan. Ia kembali memandangi foto di depannya , sambil sesekali mengusap lembut perutnya yang kini tengah membuncit. Ah… tiba-tiba aku merindukannya
****
Sunyi, saat pertama kali aku bertemu dia. Saat itu, delapan tahun yang lalu, aku baru saja melepas masa SMAku. Aku bertemu dia ketika pendaftaran mahasiswa baru di perguruan tinggi. Sosoknya tampan, potongan rambut cepak, dengan kaus panjang berwarna merah. Dia menjadi salah satu panitia penerimaan mahasiswa baru.
“Laki-laki ini tampan sekali,” pikirku.
Kali kedua diriku bertemu lelaki tampan itu saat OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus), ia terlihat semakin tampan dengan jas almamater yang dikenakannya. Aku kaget, ternyata dia berjenis kelamin perempuan, sama sepertiku. Aku mengetahuinya saat  mendapat tugas mencari seorang senior bernama Rina.
Rina, lebih suka dipanggil Rino, mahasiswi semester 4 satu jurusan denganku. Dia memang tomboy, penampilan laki-lakinya sudah dikenal banyak mahasiswa satu kampus. Tak jarang pula banyak yang mengira dia lelaki, tak sedikit juga perempuan yang menyukainya. Daya tariknya sungguh luar biasa, dia cukup ramah dan disegani banyak kalangan.  
            Perkenalanku dengan Rino tak berhenti sampai saat OSPEK saja, ternyata Rino mengikuti  beberapa kelas mata kuliah yang sama denganku . Ketika dosen memberikan tugas kelompok, Rino dengan santai meminta aku sekelompok dengannya. Seperti biasa, dengan senyum dan suaranya yang khas.
            Semakin lama, kami semakin dekat. Ada yang aneh dengan diriku, aku seolah menikmati kebersamaanku dengan Rino. Dan dia semakin memberikan perhatian lebih kepadaku, melebihi adiknya sendiri.
            Rasa yang tak biasa, muncul perlahan dalam degup. Memaksa ‘tuk mengikutinya. Membuat aku dan Rino tersesat dalam arus ketidakwajaran. Cinta yang salah antara kami. Aku dan Rino. Meski akhirnya kami berpacaran, aku tahu itu salah, karena kami sesama perempuan. Tapi, bersama Rino, aku menemukan kenyamanan yang berbeda. Kenyamanan yang tak kutemukan bersama dengan laki – laki yang pernah kupacari sebelumnya.
            Cinta terlarang itu, berjalan selama hampir 7 bulan. Hingga suatu saat aku mendapati Rino mencium seorang gadis di kelasnya. Saat itu, aku tak sengaja melewati kelas kuliah terakhirnya. Segudang rasa berkecamuk dalam dadaku, entah sakit, marah atau benci . Tanganku tak tertahankan ‘tuk menampar mukanya hingga membekas merah di pipi putihnya. Kami pun bertengkar hebat di depan umum, hingga mahasiswa yang ada di sekitar  dapat menebak bahwa diantara kami telah terjalin hubungan terlarang.
            Setelah kejadian tersebut, aku memutuskan berhenti kuliah dan pindah jurusan tanpa memberi kabar apapun pada Rino. Aku mencoba melupakannya dan mencoba menjalin hubungan dengan beberapa lelaki hingga akhirnya aku memutuskan untuk menikah. Aku tak pernah menghubunginya lagi, meski terkadang aku merindukannya.
****
            Wanita itu menelusur kembali ingatannya, mengapa ia kembali mengingat sosok manis itu? Sosok yang sudah dia lupakan sejak tujuh tahun lalu. Sosok yang membuatnya belajar banyak hal, sosok yang berani menamparnya di depan umum. Akan tetapi, masih ada sepenggal cinta dan cerita yang tersisa antara dia dan sosok manis itu, meski kini dia telah memiliki pendamping hidup. Apa kabarmu Mila?Rinduku padamu menyiratkan luka.
Suatu siang yang biasa tanpa ada satu pertanda, mereka bertemu kembali di sebuah pertokoan sebuah mall. Entah ketidaksengajaan atau sudah digariskan oleh Yang Maha Esa. Mereka saling terhenyak, mematung satu sama lain. Dia dengan perutnya yang buncit, dan seseorang di depannya yang sedang menggendong bayi. Luka lama kembali hadir diantara benak mereka berdua.
***
Pertemuan yang tak sengaja, memaksaku kembali mengingatnya. Kami memutuskan untuk berbincang di Food Court yang ada di mall tempat kami bertemu. Duduk saling berhadapan dan saling terdiam. Sampai akhirnya Rino memulai  pembicaraan.
“Apa kabar?” tanya Rino. Ada kerinduan terbaca dari lingkar matanya. Sosoknya masih sama seperti tujuh tahun lalu, saat terakhir kali aku menamparnya. Dia masih sama. Tampan, sekaligus cantik
“Aku baik-baik saja. Selamat ya sebentar lagi kamu jadi ibu,” ucapku.
Aku tak tahu, ucapan selamat ini tulus atau tidak. Meski kini aku telah memiliki seorang anak, setidaknya masih ada rasa yang tertinggal untuknya. Rasa yang tercipta karena kebiasaan dulu. Namun, kesalahan terbesar bila aku terus mengingatnya. Dan aku harus meyakinkan diri, Dulu aku memang mencintainya, tapi aku sadar cinta itu terlarang dan harus kutepis semua rasa cinta ku padanya.   
“Selamat juga, kini kamu telah mempunyai putri,” balas Rino “ Mila… entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu memimpikanmu. Aku rindu padamu Mil, sampai sekarang aku terus mengingatmu. Aku masih menyayangimu,” lanjutnya sambil berusaha meraih tanganku yang kuletakkan diatas meja.  
“Rin, pendamal saja  cerita tentang  kita dahulu. Kita punya jalan kehidupan masing-masing. Dan kita tak akan pernah mungkin bersama. Cinta kita dahulu, adalah sebuah kesalahan. Soal kerinduanmu padaku, anggap saja kamu merindukanku dan menyayangiku sebagai adikmu,“  jelasku perlahan.
Perkataanku sungguh klise. Tak tulus dari hati nuraniku. Ada sakit yang jelas terasa di dada. Namun aku harus tetap berkata hal tersebut. Kami memang telah memiliki jalan masing-masing. Dan cinta terlarang kami ini harus terkubur dalam sebuah peti di lubuk hati. Terkunci rapat bersama kenangan-kenangan lalu, kemudian akan tertumpuk kenangan baru yang tercipta bersama anak dan suamiku.
****
Mila meninggalkan Rino yang masih tertunduk.
“Maafkan ibu, Nak,Ucap Rino  lirih sembari membelai perutnya.
***
SELESAI



*cerpen ini pernah dimuat dalam antologi cerpen "Dalam Balutan Pelangi" penerbit AGP

You May Also Like

0 komentar