Satu*

10:29 PM

Daging kita satu, arwah kita satu
Walau masng jauh
Yang tertusuk padamu berdarah padaku
Penggalan puisi dari Soetardji Calzoum Bahri tersebut semakin akrab di telinga saya sejak awal perkuliahan.  Puisi tersebut tertera di belakang  kaos jurusan angkatan saya. Senior saya, pada saat ospek menghimbau agar angkatan saya bisa selalu kompak dan bersatu dan mengatakan bahwa kami (red:satu angkatan) adalah satu tubuh yang utuh. Jangan sampai bagian tubuh ini ada yang terlepas.
Hari demi hari terlewati, kami semakin mengenal satu sama lain. Di tengah perjalanan kami, ternyata banyak perbedaan yang terjadi diantara kami. Perbedaan pemikiran, ideologi, budaya dan kebiasaan menimbulkan Banyak perdebatan, selisih paham, sedikit permusuhan dan kecanggungan. Lama – kelamaan kami menyadari bahwa perbedaan inilah yang membuat tubuh kami semakin utuh.
Walaupun kami berbeda, kami tetap berusaha menyatukan ide dalam membangun program studi yang saya tempuh dengan menyalurkan ide – ide yang mampu membuat prestasi bagi program studi tercinta. Dari perbedaan – perbedaan itulah banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik supaya semakin mengenali sifat tiap orang, mengajarkan untuk kita banyak mengalah dan bersabar, mengajarkan kita semakin memiliki pengalaman, pemikiran serta wawasan akan budaya. Perbedaan itu tak selalu membawa perpecahan, tergantung bagaimana kita berusaha merangkai setiap perbedaan menjadi jalinan yang indah.
Saya sangat berterimaksih kepada senior saya yang telah memperkenalkan puisi Sutardji tersebut karena setiap kami melangkah, kami selalu teringat bahwa “daging kita satu, arwah kita satu” artinya, sejauh mana kita berbeda, berselisih, kita adalah satu tubuh, satu rangkaian  yang memiliki fungsi masing – masing dengan bentuk yang berbeda. Ya, kami memang satu rangkaian yang utuh, kami tak dapat dipisahkan. Kami adalah tangan, kaki, kepala, mulut dan telinga. Kami memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda, namun saling melengkapi.

 “Perbedaan pun terbukti berguna, selama ada toleransi.” 
 
Mahatma Gandhi

*dari judul puisi Sutardji Calzoum Bahri, dipersembahkan untuk kawan Sastra Indonesia Unair 2010

You Might Also Like

0 comments