Baju Baru Ketika Lebaran: Bukan Lagi Prioritas

by - 15.40





Sampai sekarang saya selalu heran, setiap menjelang lebaran orang-orang selalu berbondong-bondong menyerbu toko pakaian. Mall selalu penuh sesak, pedagang pakaian dan kebutuhan badan lainnya menjual lebih banyak barang dari hari biasanya. Seolah tanpa baju baru, lebaran tidak terasa istimewa.

Dulu, ketika masih kecil hingga remaja saya memang salah satu penganut membeli baju baru setiap lebaran. Tapi, bukan karena  harus beli, lebih kepada hadiah dari orangtua. Sejak kecil, bapak dan ibu tidak membiasakan saya dan kakak hidup dengan berbelanja berlebih, boros ataupun memberikan kemewahan karena kami memang bukan orang yang tergolong mampu. Saat kecil, saya terbiasa memakai baju pemberian orang (lebih tepatnya baju bekas anak majikan bapak yang semuanya masih bagus-bagus) dan itu pun sudah cukup bagi saya. Untuk itu bapak selalu membelikan baju hanya menjelang hari raya sebagai bonus. 


Semakin dewasa, saya sadar baju baru ketika lebaran bukanlah prioritas. Ada banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi dan tentu saja yang terpenting adalah makna lebaran itu sendiri. Sudahkah kita memaknai lebaran dengan seutuhnya? Untuk apa pakaian dan seluruh yang melekat pada badan baru, sedang di luar sana masih banyak yang tidak bisa merayakan lebaran? Bagaimana dengan adik-adik panti asuhan  yang sedari kecil harus kehilangan orang tua? Ah, saya sendiri  juga belum bisa memaknai Ramadhan dan lebaran dengan baik. 

 Dan sudah 4 tahun belakangan ini saya tidak membeli baju baru ketika lebaran. Bukan berarti saya tidak membeli baju, tapi memang jarang sekali. Dalam setahun pun hanya sekali membeli baju. Itu pun karena butuh untuk suatu acara.

Tidak hanya pakaian, kebutuhan lain pun sama halnya demikian. Lebih ke membeli ketika benar-benar butuh saja. Missal sepatu rusak, baru saya beli. Jadi jangan heran kalau ketemu saya dengan style yang old sekali :D dan pakaian yang itu-itu saja.  Apalagi untuk pedagang macam saya, keuangan setiap bulan yang tak menentu membuat saya harus pintar-pintar mengatur keuangan.

 Lalu pada akhirnya, apakah kita sudah bisa memaknai Ramadhan dan lebaran secara utuh? apakah hati kita sudah ikhlas?

You May Also Like

0 komentar