Megengan dan Sandingan : Melestarikan Tradisi Menjelang Ramadhan

6:47 AM




Menjelang Ramadhan, sejumlah masyarakat di berbagai daerah memiliki berbagai macam tradisi untuk menyambut datangnya bulan suci dan bulan penuh berkah ini. Ada berbagai macam tradisi yang dikenal di masyarakat seperti tradisi Nyadran, sedekah kubur, Padusan, dan di Jawa Timur sendiri terkenal dengan nama Megengan.
Megengan berasal dari bahasa Jawa yang artinya menahan. Megengan merupakan penanda masuknya bulan  suci Ramadhan, yaitu bulan di mana setiap muslim diwajibkan melakukan ibadah puasa dan menahan nafsu 30 hari penuh. 
Ada berbagai macam hal yang dilakukan dalam menyambut bulan suci ramadhan. Dulu sewaktu kecil, sebelum bulan puasa, almarhum mbah saya di Madiun  akan sibuk menyiapkan “ambengan”. Ambengan merupakan nasi putih dan nasi kuning yang dilengkapi dengan lauk lengkap. Kemudian di bawa ke masjid untuk di doakan kemudian dimakan bersama dengan warga sekitar  Kalau di kota dikenal dengan Tumpengan akan tetapi ambengan ini nasinya tidak dibentuk tumpeng. 
Selain itu, juga membuat apem yang kemudian dibagikan ke tetangga dan kerabat dilengkapi dengan pisang. Apem merupakan simbol permintaan maaf dalam masyarakat jawa yang berasal dari bahasa Arab “Afwan” atau mohon maaf. pembagian apem kepada tetangga ini merupakan simbol permohonan maaf menjelang bulan puasa, agar ibadah puasa lancar.
Meski sekarang di lingkungan saya tinggal di Surabaya sudah banyak yang meninggalkan tradisi pembagian apem ini, bagi keluarga saya tradisi membagikan Apem ke tetangga adalah hal yang harus dilakukan. Almarhumah mbah putri pernah berpesan “Masiyo jaman wes modern, Apem lan Gedhang e ojo nganti keri” (walaumun jaman sudah modern, apen dan pisang jangan sampai ditinggalkan)
Selain sebagai simbol permohonan maaf, pemberian apem kepada tetangga mengajarkan kepada kita akan konsep berbagi/bersedekah. Bagi keluarga yang mampu kini membagi apem juga ditambah dengan memberikan nasi berkat. 

Sandingan Mapak Poso



Selain membagikan apem dan pisang ke tetangga, ada satu lagi hal yang biasa dilakukan dalam menyambut bulan suci ramadhan. Menyiapkan sandingan. Sandingan (sajian) mapak poso merupakan tradisi menghormati dan mendoakan leluhur yang telah berpulang lebih dahulu.

Isi Sandingan yang biasa disiapkan adalah apem, pisang, kopi manis kesukaan almarhum, rokok. Sebagian masyarakat di Jawa Timur meyakini bahwa saat sebelum ramadhan, arwah para leluhur yang telah meninggal akan pulang kembali ke rumah. Sebagai orang yang masih hidup, keluarga wajib mendoakan dan memberikan sajian tersebut. Entah benar atau tidak tradisi semacam ini masih terus dilakukan.
Sebagian orang masih mempercayai bahwa, orang yang telah meninggal saat menjelang ramadhan akan pulang, dan menghirup aroma dari sandingan yang telah disiapkan oleh keluarganya.

Memandang Tradisi Megengan Sebagai Kearifan Lokal  

Di tengah era hijrahisme yang semakin menjamur ini, tentunya akan banyak sekali anggapan negatif akan tradisi-tradisi semacam megengan dan sandingan. Tentunya akan ada yang bilang Musyirik, bid’ah dan lain sebagainya. Menentang untuk meninggalkan tradisi-tradisi yang tidak ada di Al-qur’an.
Namun di sisi lain, megengan merupakan  salah satu kearifan lokal yang harus terus dilestarikan. Indonesia kaya akan budayanya yang sangat kental terutama di pulau Jawa dan para penganut islam kejawen.  Saya poernah membaca bahwa tradisi membuat apem seperti ini di Jawa Timur diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga.
Islam di Jawa memiliki banyak tradisi yang sampai saat ini terus dipertahankan. Meski di perkotaan mulai ditinggalkan, namun di desa-desa masih terus mempertahankan karena kentalnya tradisi yang masih dipegang teguh.
Dosen di kampus saya juga pernah berkata “zaman sekarang, satu persatu bahasa daerah dan tradisi local mulai hilang. Karena apa? Karena anak muda enggan belajar tradisi dan budaya. Oleh karena ituy, harus ada yang terus melanjutkan, kalau bukan kita yang melestarikan tradisi local, lantas siapa lagi?”  
Jadi, sebagai generasi muda, jangan lantas meninggalkan tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun. Ada yang masih menjalankan tradisi yang sama seperti saya?

You Might Also Like

0 comments