Destinasi Wajib dikunjungi di Pekalongan, dari Museum Batik, Pabrik Limun Hingga Pasar Setono

10:00 AM



Foto Bersama Pemilik Pabrik Limun Oriental

Pukul 03.50 pagi, kereta Dharmawangsa yang saya tumpangi berhenti di Stasiun Semarang Tawang. Ini kali pertama kaki saya menjejak di Kota Semarang, sendirian pula. Rencana semula saya berdua dengan Mbak Yuni terpaksa gagal karena satu hal. Perjalanan saya ke Semarang kali ini untuk mengikuti Famtrip Jateng On The Spot yang diadakan Disparpora (Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga) Provinsi Jawa Tengah.

Sembari menunggu langit membiru mengistirahatkan badan di ruang tunggu Stasiun adalah hal yang saya tunggu. Maklum, 5 Jam di kereta tak bisa membuat nyenyak terlelap karena rombongan yang super gaduh di depan saya. Setelah membersihkan badan, pukul 6.30 dengan bantuan ojek daring saya menuju lokasi meeting point yaitu Disparpora Jawa Tengah, di Jalan Ki Mangunsarkoro, Karangkidu,Kecamatan Pekalongan.

Perjalanan Menuju Pekalongan

Sebagian rombongan berangkat dari Semarang, sementara beberapa menunggu di Pekalongan. Sesampainya di Rest Area Semarang, ternyata Bus yang kami tumpangi mengalami kendala sehingga harus beristirahat sejenak sembari menunggu bus susulan untuk mengantar kami ke destinasi pertama, Kota Pekalongan.

ini kaliakedua saya beristirahat di Rest Area Semarang ini, sebelumnya setahun lalu sempat singgah saat perjalanan menuju Cirebon. Perjalanan dari kota Semarang menuju Pekalongan memakan waktu dua jam melalui jalan tol.

Pekalongan terkenal dengan julukan Kota Batik, merupakan wilayah yang menghubungkan jalur Pantura bagian barat. Meski beberapa kali pernah melewati kota Pekalongan saat menuju Cirebon beberapa waktu lalu, saya belum pernah mengeksplor kota yang pernah masuk dalam jaringan kota kreatif UNESCO pada tahun 2014.

Sesampainya di Pekalongan, rombongan dari Semarang termasuk saya segera bergabung dengan teman-teman blogger dari kota lain yang sudah menunggu terlebih dahulu di Museum Batik.



Di Museum Batik, peserta Famtrip diajak untuk langsung praktek membuat batik. Setiap peserta difasilitasi sehelai kain. Kain yang digunakan untuk membatik pada umumnya adalah kain katun
Ada beberapa proses pembuatan batik, nah yang diajarkan pada peserta kali ini adalah batik Kelengan. Batik Kelengan adalah batik yang menggunakan dua warna, yaitu warna dasar dan warna putih sebagai motifnya.



Proses pertama adalah dengan menggunakan cap. Cap dilakukan dengan meletakkan kain di meja yang tealah dilapisi dengan kain basah. kemudian siapkan lilin dan cetakan yang telah dipanasi. Langkah selanjutnya adalah mencap kain dengan motif yang diinginkan.

Pengalaman pertama mencap batik membuat saya sedikit tegang, alhasil motif yang saya cap ke kain nggak simetris. hehehe namnya juga amatiran ya.





Setelah selesai proses cap, kami berpindah ke ruangan yang ada di sebelahnya, yaitu proses manual dengan ditulis. karena keasyikan melihat teman-teman menggambar motif manual, saya jadi buntu mau menggambar apa.



Proses terakhir yaitu pewaraanaan batik. ada dua tahapan yaitu ngelir dan ngelorod. mula-mula, kain yang semula dicap dan ditulis direndam dalam air untuk dicuci. Setelah dicuci, batik diwarna sesuai yang diinginkan. Kali ini, warna yang disediakan adalah warna navy

Mengenal Ragam Batik Indonesia



Selain belajar membuat batik, peserta Famtrip kali ini juga diajak untuk berkeliling Museum Batik. Museum batik Pekalongan memiliki tiga ruangan pameran yang berisi ragam corak Batik Indonesia, peralatan membatik dan beberapa koleksi batik hadiah dari luar negeri.
Aroma Pandan Wangi dan Melati menyeruak berhamburana kelauar kala Mas Dewa, pemandu dari Museum Batikmebuka ruangan pameran. beliau menjelaskan, memang di Museum Batik hanya menggunakan pewangi ruangan alami, seperti pandan, melati dan bunga-bunga lainnya.


Dari berbagai koleksi Batik yang ada, kami jadi lebih paham bahwa Batik Indonesia memiliki banyak sekali ragam. Ragam/corak batik pesir berbeda dengan batik dari daerah yang bukan pesisir



Museum Batik Peakalonagan
Jalan Jatayu No. 1 Pekalongan, Jawa Tengah
Harga Tiket Masuk: Dewasa Rp 5000,00 , anak-anak Rp 1.000,00
Buka setiap hari (hari Minggu dan Libur Nasional tetap buka)
Mengenal dan Menyicipi Limun Oriental, Minuman Limun Tertua di Kota Pekalongan.



Puas berkeliling di Museum Batik dan membawa sehelai slayer hasil praktek, kami melanjutkan ke lokasi berikutnya yaitu Pabrik Limun Oriental. hanya berjarak 100m dari Museum Batik, Pabrik Limun Oriental memang cocok jadi satu paket wisata dengan Museum Batik. cukup ditempuh dengan jalan kaki.


Apa itu Limun? beberapa teman sempat bertanya apa itu Limun. Sebagai generasi millenial yang hidup di kota besar seperti Surabaya, Jakarta rasanya sedikit asing dengan istilah Limun. Namun sebenarnya Limun ini adalah minuman yang sudah ada sejak jaman Belanda.

Limun mengingatkan masa kecil saya saat perjalanan pulang di kampung halaman Ibu di Madiun, kala itu warung-warung nasi yang kami singgahi banyak menjual Limun yang dikemas dalam botol dengan aneka rasa. sayangnya, tak lama setelah itu botol- botol limun berganti dengan botol minuman bersoda terkenal dari pabrik modern. Perlahan, Limun semakin jarang dijumpai di warung-warung.

Limun berasal dari kata Lemonade merupakan minuman ringan yang dikarbonasi atau populer dengan sebutan Soda, kalau jaman sekarang gampangnya orang menyebut soft drink. Minuman ini sudah ada sejak jaman penjajahan, menjadi primadona bagi kalangan elite masa itu. Sehingga tak heran jika Limun juga dikenal sebagai banyu Londo (air Belanda) oleh orang-orang Jawa.


Limun Oriental Cap Nyonya Shiluet merupakan merk Limun dari perusahaan limun tertua yang ada di Pekalongan. Didirikan sejak tahun 1920. Saat ini dijalankan oleh generasi ke lima dari pendiri Pabrik Limun Oriental. Pabrik Limun tradisional satu ini, meski mengalami pasang surut tetap berusaha bertahan di tengah gerusan zaman yang semakin modern dan bertambahnya berbagai macam merk minuman ringan yang menggunakan mesin modern.



Saya memilih Rasa Kopi Moka dari beberapa variana rasa yang ada. Mas Aji, Mbak Idah dan Mbak Ela memilih rasa yang berbeda aagar kamia baisa saling mencicipi. dari beberapa rasa, saya menobatkan Kopi Moka sebagaia rasa paliang enak. Pak Bernady selaku pemilik juga membenarkan bahwa Kopi Moka menjadi favorit pengunjung yang membelinya. Rasa Kopi Moka Limun Oriental, juga mengingatkan saya akan minuman sejenis, yaitu Coffe Beer yang berasal dari Ngoro Jombang.




Setelah memanjakan perut dengan semangkuk Soto Taoto, makanan khas Pekalongan dan sepiring ayam geprek yang dijual di Pabrik Limun tersebut, kami diajak berkeliling pabrik. Pak Bernady, selaku pemilik pabrik mengatakan bahwa dalam satu jam, pabriknya mampu memproduksi ratusan botol limun. Sayangnya, kami berkunjung di Hari Jum'at, yang mana para pegawai libur produksi di hari tersebut.

Satu botol Limun Oriental dijual dengan harga 7500 untuk minum di tempat dan 10.000 jika ingin dibawa pulang beserta botolnya. atau bisa juga beli satu dus berisi 6 botol seharga 55.000 untuk oleh-oleh.

Pabrik Limun Oriental
Jalan Rajawali Utara No. 15 Pekalongan Utara, Pekalongan Jawa Tengah
Buka setiap hari Senin- Minggu
pukul 08.00-17.00

Berburu Batik di Pasar Grosir Setono Pekalongan





Berkunjung ke kota yang dikenal sebagai kotanya batik, kurang afdol jika tidak berburu batik sabagai oleh-oleh. Kota Pekalongan memiliki Pasar Grosir Setono sebagai pusat grosir batik.



Hari sudah sore tatkala rombongan kami sampai di Pasar Grosir Setono. Pasar Grosir Setono menawarkan beraneka ragam batik dengan harga terjangkau, cocok untuk mencari oleh-oleh maupun dikoleksi pribadi. Melihat batik yang bermacam-macam membuat diri saya bingung memilih, duh memilih batik aja bingung apalagi milih jodoh, yak.





Setelah puas berkeliling di Pasar Grosir Setono, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Sebelah, Tegal untuk bergegas mengistirahatkan raga.

Pasar Grosir Sentono
Jalan Dr. Sutomo No 1-2 Karangmalang, Pekalongan Timur, Pekalongan
buka mulai pukul 08.00 - 21.00

sebelum menuju hotel, kami sempat mampir ke Dapoer Tempo Doeloe untuk makan malam.

Bersambung...

You Might Also Like

0 comments