Perihal Cinta: Memilih Cinta Dalam Diam atau Mengungkapkan? - rieagustina

Perihal Cinta: Memilih Cinta Dalam Diam atau Mengungkapkan?

Aku Tresno karo kowe.. nanging aku biso opo.. Berbicara soal cinta memang nggak pernah habis dibahas. Urusan satu ini jadi topik paling umum...




Aku Tresno karo kowe.. nanging aku biso opo..


Berbicara soal cinta memang nggak pernah habis dibahas. Urusan satu ini jadi topik paling umum yang setiap orang pernah mengalami dan tentunya dibumbui dengan kisah yang sedap-sedap pahit gitu. Nggak melulu tentang senangnya saja, tapi juga banyak kisah yang nggak mulus, termasuk kisah saya sendiri (yang samapi sekarang bertepuk sebelah tangan).
Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir
Masih ingat kutipan tersebut? kutipan  terkenal dari Jendral Tiangfeng alias Cu Pat Kai dalam serial kera sakti yang selalu menderita karena cinta. 

Ketika Rasa Suka itu ada pertama kalinya
Ngomongin cinta-cintaan saya heran anak SD jaman sekarang aja udah manggil ayah-bunda, mama-papa.. lah jaman saya dulu, sama cowok yang ditaksir malah panggil-panggilan nama orang tua. :D

Soal cinta pertama, saya nggak pernah tahu itu dulu bisa disebut cinta pertama atau bukan. Atau sekadar cinta-cintaan nak-kanak beranjak remaja, ya. Masih pakai seragam merah putih alias jaman Sd 🙈. Awalnya saya sebal karena dia beberapa kali ngalahin saya dalam rangking di kelas. Sekitar kelas 6 SD yang saya ingat, dulu di SD kalau rangking itu mesti dikasih rangking 1.1, rangking 1.2, sampai rangking 1.4.

Nah dulu kan sistem cawu ada 3 kali terima rapor, saya sebel kalau kalah sama dia, dia rangking 1.2 sedang saya di rangking 1.3. Eh  karena saking sebalnya kok malah jadi suka sama dia.  Saat Masuk SMP saya pengennya satu sekolah sama dia, tapi ternyata saya salah nulis pilihan sekolah haha.... Dia akhirnya keterima di SMP 2 sedang saya di SMP 4.

Seiring jalannya waktu sadar kalau dia cuma cinta monyet, sekadar suka aja. Semenjak pisah sekolah ya biasa aja. Saya juga nggak pernah bilang kalau sempat suka sama DIA, mungkin karena itu kisah jaman masih anak-anak ya.

Semoga aja si dia nggak baca tulisan ini, malu.. hehe... Sekarang kami bersahabat. Masih sering keluar bareng sama temen-temen SD lainnya, sering diskusi macem-macem, dan tentunya namanya paling dihapal ibuk. Ibuk juga nggak bakal tanya aneh-aneh kalau saya keluar atau dijemput dia. Dia juga belum menikah, mungkin teman-teman ada yang mau daftar bisa hubungi saya 😁😁

Saya ini orangnya nggak mudah suka seseorang. selalu mbangun tembok tinggi dan menjauh kalau nggak sesuai ekspektasi saya. Tapi sekali suka atau tertarik sama seseorang pasti bertahan lama. Setidaknya ada dua orang yang paling membekas  sampai saat ini ketika Jatuh cinta (di luar cinta monyet atau cinta pertama itu). Sebut saja Mas M dan Mas X


Pengalaman Memendam Perasaan 
Sebut saja namanya mas M, senior di kampus. Singkat ceritanya kami dekat, sering bareng, sering kegiatan organisasi bareng, kemudian sering SMSan (satu dekade lalu WA belum musim. Paling banter BBM tapi mas M nggak punya). Beberapa kali terlibat diskusi bareng dan di kelas yang sama karena dia ngulang. Pelan-pelan saya mulai suka sama Mas M, jadi sering salah tingkah, deg-degan. Saya kagum pemikirannya dewasa, kadang lucu, tapi disegani.  Orang pinter dan pemikirannya dewasa mah pesonanya beda, selalu bisa bikin saya meleleh. 

Dekat sama dia menyenangkan, tanpa saya pernah bilang ke dia. sampai teman-teman pada gojloki juga. Sekitar satu tahun berlalu dan kami masih seperti itu,  mas M ini akhirnya balikan sama mantan pacarnya. Saya tetep aja deket sama dia. Masih suka SMSan, dengan panggilan ADEK-MAS pula. Ini padahal temen seangkatan nggak ada yang dia panggil dek, langsung dipanggil nama.  Ah waktu itu saya terlalu baper gara-gara ini..
 
Dia udah punya pacar meski nggak satu kampus, lama kelamaan hubungan kita jadi jauh. Apalagi memasuki tingkat akhir perkuliahan. Hingga suatu saat, mungkin karena si pacar Mas M (sebut saja Mbak F) ini tahu(biasanya feeling wanita memang kuat kan ya). Ia ngotot pengen ketemu saya. Ketemulah sama si pacarnya mas M ini di salah satu sudut kampus. Sudah ketemu mereka malah tengkar sendiri dan saya cuma bisa senyum kecut sambil  menghela nafas panjang 

"saya nggak ada apa-apa kok, Mbak sama Mas M. Cuma temenan aja. "  sambil rasanya dada ini sesek. 

Ya terus saya nangis sejadi-jadinya dong setelah itu. kok ya ngerasa bersalah banget. Mas M meminta maaf karena sikap posesif pacarnya, perlahan Mas M mulai menjauhi saya. Terakhir sebelum kami benar-benar putus kontak, FB saya diblokir, dan dia ganti nomor. Dan saya pun lulus enggak tahu lagi kabarnya.  Akhirnya 5 tahun silam saya tau kabar pernikahannya dengan mbak F.

Mas M adalah sesal dan sakit yang paling saya ingat sampai sekarang. Kami putus komunikasi sebelum saya meminta maaf dan menyatakan perasaan saya. walaupun mungkin dia sudah tahu dari tanda yang selalu saya kirimkan.


Mengungkapkan Perasaan sudah tahu Resikonya
Suatu ketika setelah Mas M berlalu, sempat menjalin hubungan seseorang yang kini saya sebut mantan. Lain kali akan saya ceritakan tentang mantan ini..
2 tahun lalu saya kembali kontak dengan Mas X gara-gara story tentang buku, seorang kenalan lama yang saya kenal jauh sebelum mas M. Ada perasaan berbeda yang saya temukan saat mengobrol dengannya. Saya jadi lebih semangat memulai hari-hari yang sebelumnya membosankan. Barangkali saya yang sekarang, dapat lebih baik karena Mas X ini. Pokoknya dia ini menginspirasi saya untuk bisa lebih baik. Saya mulai suka sama mas X sampai sering kebawa mimpi, jadi sering gelisah dan overthingking. kejadian seperti mas M terulang lagi lagi-lagi cuma berani mbribik. Satu tahun lamanya rasa gelisah itu saya tanggung. 

Witing tresno jalaran soko gak onok wong liyo :P

Hingga suatu saat Ajeng, teman saya mengirimkan Lagu Banda Neira berjudul Utarakan. Tambah galau deh. Entah kerasukan setan bagian mana gara-gara lagu itu akhirnya saya nekat menyatakan sayang sama mas X. Karena nggak sanggup bertahap secara langsung takut gemeter apalagi nangis (wong saya ini gembengan kalau urusan asmara). Dengan nekatnya mengirimkan tulisan sepanjang 1200 Kata ke WA mas X (kata teh Langit Amaravati beberapa waktu lalu pas reply twitter, itu surat cinta apa skripsi,sist? panjang bener). Sekarang kalau tak baca lagi kok ya ngakak sekaligus malu sendiri. Cek wani e aku ngetik sepanjang itu 🙈

perasaannya gimana? SESAK sambil menahan napas pencet tombol kirim di WA. Tapi tambah sesak setelah baca balesanya dengan kalimat akhir "maaf, mungkin aku cuma bisa jadi sebatas teman" (masih mungkin kan yaaa 😂 soalnya masih ngarepin dia sampe sekarang) 
Asli saat itu langsung nangis. Gak tanggung-tanggung sedihnya gini ya patah hati di usia lebih dari seperempat abad. 

Tapi setelah beberapa waktu ada perasaan lega, plong, gelisah mulai berkurang. Kami tetap berteman. Sekarang kalau kangen ya tinggal bilang kangen aja. Duh nggak tau malu emang. Untung aja dia baik, nggak di blok  akun saya setelah saya ngirim cerpen 1200 kata itu 🙈🙈

Memilih memendam atau mengungkapkan?
Sebenarnya tidak ada dalil yang menyatakan bahwa perempuan tidak boleh menyatakan cinta duluan. lha wong Siti Khadijah RA saja menyatakan rasa sukanya pada baginda nabi terlebih dahulu. Yang melarang itu cuma ego, gengsi dan tentu saja norma dalam masyarakat kita. cah wedok kok mbribiki lanangan dishik (anak perempuan kok PDKT ke lelaki duluan). 

Pada akhirnya saya sadar, mau mengungkapkan atau tidak mengungkapkan itu terserah pribadi masing-masing . Tapi, dengan mengungkapkan apa yang kita rasa, akan jauh lebih lega. Kamu nggak akan lagi terkungkung rasa penasaran. Meski resikony ada seperti dia menjauh, atau kontak kamu diblokir. Hehe


Sudah saya nggak mau mengulang kesalahan yang dulu, nggak berani menyatakan sampai si Mas M Menikah. ehe... Saya orangnya agresif, lebih suka ngejar daripada dikejar.

Jadi, memilih mencintai dalam diam (sementara diam-diam dia merencanakan pernikahan dengan yang lain) atau mau menyatakan itu terserah pribadi masing-masing. Nggak perlu ngurusin omangan orang, wong yang punya perasan siapa, kok yang ribut orang lain. sing penting jaga mood, jaga hati dan mengikhlaskan, kalau ujung-ujungnya dia suka ya alhamdulilah, kalau cinta ditolak ya dukun Tahajud bertindak. 

Mohon doa saja supaya tiba-tiba mas X kesambet apa gitu jadi suka sama saya:P 

Jadi, teman-teman masuk tim mana? lebih suka memendam atau langsung menyatakan cinta pada orang tersayang? :P



Source Vector: freepik edit by rieagustina

Artikel ini diikutsertakan dalam Challenge 'Nulis Blog Bareng Ning Blogger Surabaya' 
Edisi Juli Minggu 1

You Might Also Like

0 Comments