Rela Jalan Kaki 2,5 KM saat Uang Mepet

3 comments

Soal uang, bapak dan ibu tidak pernah memanjakan anak-anaknya dengan memberikan banyak uang, apalagi urusan uang saku sekolah. Sejak kecil saya tidak pernah dikasih uang dalam jumlah besar (kecuali untuk bayar keperluan sekolah) kalau meminta sesuatu juga harus jelas untuk apa dan harga berapa. Kisah saya, jaman SMA dengan uang saku yang pas-pasan, saat nggak punya uang rela jalan kaki 2,5 km agar bisa sampai rumah.

Rela Jalan Kaki demi bisa Pulang

Rumah saya di Surabaya barat, sedangkan sekolah saya di daerah kota (Sebelah kantor besar PDAM). Awal masuk sekolah ini saya harus dicemooh orang-orang sekitar. Anak wedok sekolah kok jauh sekali, bla..bla... Untungnya bapak tetap slow.  

Saat itu tahun 2007-2010 saat teman-teman lainnya membawa motor,  saya belum diperboehkan naik motor (ya karena emang nggak punya motor juga sih.. Motornya cuma dua dipakai kakak kerja dan bapak). Jadinya setiap pagi saya selalu diantar bapak ke sekolah dan kebetulan searah dengan kantor beliau. 


berbekal uang saku 10.000 setiap harinya, yang mana 5000 (dua kali oper bemo, sekali naik 2500 karena anak sekolah) nya untuk bayar angkot (bemo). Nah 5000nya biasa saya gunakan untuk beli makan/jajan/ bayar kas kelas/ nabung beli pulsa (wkwkw jaman segitu saya harus nabung sendiri untuk memenuhi kebutuhan pulsa). Kata orang sih agak kejam, anaknya nggak dikasih uang lebih. Tapi sampai saat ini saya jadi sadar kalau dari situ saya jadi bisa belajar hemat dan memi
Suatu ketika, ada musibah yang menimpa teman kami, salah satu orang tuanya meninggal dan seperti kebiasaan di sekolah kami adalah ketika ada musibah, maka akan ada uang duka sukarela yang ditarik untuk disumbangkan. Saat itu uang di kantong tinnggal 6000 karena bayar uang kas 2000 dan jajan..
Saya menyerahkan uang 3000 rupiah untuk uang duka, hanya sisa 3000 dan cukup untuk sekali naik angkot.

Naik Angkot Karang Menjangan - Terminal Balongsari 

Saat masih SMA, trayek bemo yang saya naiki adalah lyn E trayek Karang Menjangan  Terminal Balongsari, untuk sampai depan gang rumah saya harus turn di Jalan Simo untuk oper Lyn DP Trayek JMP- PTC. 

Dalam kondisi kepepet karena uang pas-pasan saya putuskan naik Lyn E sampai Terminal Balongsari. (Tandes). Naaah dari situ saya masih harus jalan sejauh 2,5 Km agar bisa sampai di rumah . wkwkwk 

Dulu rasanya jalan segitu jauhnya kok nggak kerasa pegel,ya.. besoknya bisa kembali ke sekolah dengan sehat, selamat sampai tujuan. Oh iya, sudah lama nggak jalan kaki jauh-jauh. Terakhir kali jalan kaki jauh itu saat jalan ke tempat wisata di Blitar .

Hal yang sama sering terulang saat kuliah pulang jalan kaki dari Terminal Balongsari, terutama saat menjelang akhir bulan dan uang saku beasiswa belum turun.  Rute SMA dan kampus tempat kuliah hanya tinggal ngesot , alias jalan kaki beberapa meter. Sering pulang malam saat kuliah, saya tetap diberi uang saku sepuluhribu sama bapak namun ditambah jatah uang saku dari beasiswa 600.000 perbulan. Di mana uang-uang tersebut harus saya bagi untuk fotocopy materi, print tugas, dll.  Saya naik angkot sampai semester 4, setelah itu baru bisa beli motor dengan cara mencicil.  

Kalau diingat jaman sekolah sampai kuliah itu perjuangan banget. Saya cuma ingin sekolah tinggi, karena dari sepupu-sepupu saya, hanya saya dan kakak yang bisa melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi. Walaupun semuanya beasiswa.

Rie agustina
Selain Suka Pantai, aku juga suka kamu :) Kunjungi Tulisan saya lainnya di Jurnalrieagustina.com

Related Posts

3 comments

  1. Salut banget sama perjuangan Kak Rie untuk sekolah! Patut diacungi 2 jempol untuk kegigihan dan tekadnya bersekolah πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»

    ReplyDelete
  2. Wah salut kak rie ternyata rela jalan kaki 2,5 km untuk sekolah. Kalo aku dulu sekolahnya dekat cuma sekitar 200 m, tapi sekolah SD. πŸ˜„

    Tapi ada bagusnya juga sejak kecil disuruh hemat, jadinya bisa belajar ngirit ya mbak.

    ReplyDelete
  3. Setelah lulus, kalau perjuangan jalan kaki 2,5 Km itu sekarang terasa "manis" ya Rie..:-D Hasilnya terasa luar biasa sekali.

    Saya sendiri saat SMP dan SMA itu juga banyak jalan kakinya. Sama kayak Rie juga karena jatah jajan tidak besar dan pas pasan banget. Kalau saya punya keinginan ya harus rela berkorban untuk menabung.

    Tapi setelah dewasa dan menjadi tua seperti sekarang, saya pikir apa yang dilakukan bapaknya Rie itu bagus sekali. Saya sekarang sebagai orangtua juga menerapkan hal yang sama kepada anak sendiri. Padahal saya mampu memberikan lebih, tetapi saya ingin mengajarkan pada si Kribo kami arti sebuah perjuangan.

    Nice story Rie

    ReplyDelete

Post a Comment